Bienvenue!

Feb 08

(via winaspg)

Feb 07

(via wandasyifa)

Jan 30

I’d rather feel sad than life with regret. Ok. Let’s move.

Jan 16

“Kayanya cowo tuh emang suka bikin cewe gr, ya emang suka. Bikin seneng aja gitu. Kayanya.” — Harris J.

Bukan hanya pagi ini.
Dua puluh empat jam dikali tiga,
Hatiku terasa tak tenang.
Tetesan embun yang harusnya mendamaikan, malah seperti pedang yang menghunus jantung.
Membuat organ vital ini berdetak cepat, melambat, lalu berhenti dalam sekejap.
Dua puluh empat jam dikali tiga.
Pagiku selalu kelabu.
Dadaku menyempit didesak rasa yang selalu merindu.
Menyesak paru mehentikan haru.
Orang bilang, rindu itu menyenangkan.
Namun bagaimana bisa, bagiku, rindu itu menyakitkan?

Jan 14

Awal pertama kita bertemu, mata dan mata hatiku terkunci oleh senyummu. Dan saat kau tak kembali, aku lupa, kunci hati telah dibawamu pergi.

Dec 22

Hari ibu ya? Iya hari ibu.. Selamat hari ibu ya bunda. Gausah ngucapin langsung atau sms atau telfon kan? Tapi yang jelas, saya tau, bunda tau, kalau cinta dan doa saya selalu ada satu lapisan kulit dibelakang bunda. Meskipun jumlah pertemuan kita kurang dari umur bunda, tapi semenjak saya mengerti bahwa saya hidup, saya selalu tau, kalau bunda memang cinta kedua saya setelah Tuhan.

Dec 21

(via no-recuerdo-mi-numbre)

“Gak ada satu haripun aku gak mikirin kamu selama 3 bulan kita ga ketemu.” — Genta #5cm (via hanarachman)

Dec 16

(via sbrinaf)

Dec 15

Dec 13

Hai..

Terima kasih sudah membuka surat ini. Asal kau tahu, aku melipatnya dalam keadaan gemetar seiring dengan detak jantung yang terus menghentak dengan keras memompa darah melalui pembuluh vena dan arteri. Mengantarkan jutaan rasa dan denyut cinta yang aku tuliskan di surat ini ke seluruh tubuh. Dari kepala hingga mata kaki.

Denyut cinta?

Iya… Maaf aku tak pernah melisankannya di hadapanmu. Hanya di surat inilah aku berani menuliskannya.

Karena bagiku, berada dalam jarak sejengkal dan menangkap matamu dari kejauhan. Bagiku sudah cukup.

Karena bagiku, ketika kaki kita berada di lantai yang sama dan kudengar suaramu di antara jedanya. Bagiku itu sudah membuat hariku berwarna.

Karena bagiku, ketika nafas yang kau hembus, bercampur dengan udara yang akan kuhirup dengan segera. Bagiku itu sudah membuatku bernyawa.

Maaf.

4 huruf ini rasanya pantas sampai di matamu. Kata yang berasal juga dari hatiku. Bersandingan dengan rasa yang kurasa untukmu. Karena aku terlalu malu, terlalu pengecut, terlalu mengubur keberanianku. Hingga semua ini hanya terungkap lewat kata yang tergores dari jemariku, bukan kata yang keluar dari bibirku. Biarlah begitu. Aku hanya mengikuti naluriku, walau andai kau tahu tanganku ingin sekali memelukmu.

Terima kasih membacanya sesuai dengan permintaanku saat di lobby bandara, kau membuka surat ini kala kau sudah duduk dan bersebelahan dengan awan. Asal kau tahu, itulah yang ku rasa tiap kali kau memandangku. Aku melayang, menyelip di antara awan.

Setibanya kau menjejak tanah di kotamu. Jika kau jengah dengan isi suratku. Bisa tolong kau buang saja? Biarlah ia menjadi potongan-potongan yang tersisa diterkam waktu. Dan biarlah rasa ini akan aku kurangi sendiri dengan air dari mataku. Tapi, jika kau memperkenankan aku menelusup hatimu. Bisa kau tekan nomorku? Menyalurkan suara merambati telinga dan jiwaku. Dan dengan segera aku akan menyusulmu.

Apapun jawabanmu, terima kasih atas putaran jam yang pernah kau bagi bersamaku disini, dan sumpah demi Tuhan, aku berterima kasih padaNya untuk mengenalkanku padamu, lewat konspirasi alam dan waktu.

Salam dari aku. Pemuja yang bersembunyi dalam rasa malu.

——

Diambil dari buku Sadgenic, berjudul Surat Di Awan dan ditulis oleh Rahne Putri.

Dec 09

“Seorang muslim ditanya tentang wanita terbaik..
Dia menjawab, jika wanita solehah, beragama dan berperilaku baik, maka dia punya nilai 1.
Jika dia cantik, tambah 0 dibelakang, nilainya jadi 10.
Jika dia kaya, tambah lagi, maka nilainya adalah 100.
Dan jika dia dari keluarga baik-baik, tambah lagi, nilainya pun menjadi 1000.
Tetapi jika yang ’1′ tiada…
Maka, tiada apa yang tersisa pada wanita tersebut kecuali sekelompok ’0′.” — Al Khawarizmi, Ahli Matematika, penemu angka 0.

Dec 05